Menikah merupakan salah satu hal yang banyak didambakan semua orang. Banyak orang menunggu saat-saat special ini. Akan tetapi pada kenyataannya sampai saat ini pun momen menikah itu belum juga berlangsung untuk sebagian orang. Kenapa..??
Berikut ada beberapa hal yang bisa Anda terapkan dalam diri Anda:
1. Mungkin Anda belum benar-benar ingin menikah..!!!
Karena keinginan kita memang belum benar-benar kuat, entah itu alasan karir, masih kuliah, masih ada banyak hal yang belum dilakukan atau alasan lain yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pernikahan.
untuk hal ini Anda semua harus merubah mindset bahwa dengan menikah tidak berarti salah satu hal harus kita korbankan, dengan menikah banyak hal yang masih bisa kita lakukan.
2. Banyak orang berdoa untuk disegerakan jodohnya. Pertanyaannya? Kita ingin Menikah atau ingin ditemukan jodohnya? Kita semua sudah dijamin jodoh kita masing-masing, maka jika kita berdoa yang ada kata-katanya jodoh entah itu disegerakan atau didekatkan. Ya berarti doa kita sudah dikabulkan.
Ada cerita menarik tentang ini, ada seorang teman yang usianya diatas saya yang belum menikah juga pernah sharing ke saya, pertama kali sebelum bertemu saya, doanya dia adalah salah satunya dekatkanlah jodohku, kemudian saya sharingkan seperti diatas, kemudian dia rubah doanya menjadi “Segerakanlah aku untuk menikah…” dan ternyata dia menikahnya dengan tetangganya sendiri..!!!
3. Salah satu hal lagi yang bisa Anda lakukan dengan mengubah kata-kata Anda, jika ditanya orang lain mintalah doa kepada orang yang bertanya agar disegerakan untuk menikah. Bukan menjawab hal lain yang jadi “alasan” kita, missal belum ketemu jodohnya, belum dapat ijin ortu, dan alasan lainnya. Mulai sekarang rubah jawaban Anda, lalu perhatikan keajaiban yang akan terjadi. Ingat kata-kata kita adalah doa.
Beberapa hal diatas menjadikan orang untuk tidak segera menikah. Padahal menikah bagi yang sudah waktunya kondisinya sama dengan seorang yang berpuasa yang diharuskan untuk segera berbuka dan seorang mayat yang harus segera dikuburkan.
“Menikah itu Mudah, Menyenangkan dan Mengasyikkan…”
Salam BerkahMulia..!!!
by; M. Zaky
Lihatlah dengan mata Nya, bukan dengan mata diri. kemanakah dan bagaimanakah kecenderungannya, ketika ada kenikmatan pada apa yang tertuangkan, dan ada kecenderungannya untuk terus meminta lagi, maka itulah hawa nafsu..
namun dengan begitu juga, setiap keadaan akan selalu ada 2 hal yang berdampingan, ada ketaatan maka pasti ada kejahilan (ketidak taatan ), agar dengan begitu si hamba tidak melihat dan berhenti pada anugerah juga tidak berdiri terpaku (memikirkan) pada ketidak taatan, karena kedua-duanya hakikatnya dapat membawa si hamba kepada keberpalingan yang halus dan samar.
kondisi/keadaan itu berganti-gantian sesuai dengan kehendak Nya, sesuai dengan manfaat dan mudharat menurut Nya, bukan menurut ilmu pengetahuan yang ada pada si hamba. Ilmu pengetahuan adalah hujah/dasar bagi si hamba, yang juga merupakan anugerah Nya, namun bukan berarti si hamba bergantung kepada itu, itulah kenapa ada ilmul yaqin.
singkirkan apa yang membuat khawatir kepada sesama mahluk, lenyapkan semua kepentingan, apapun yang terlihat atau terketahui sesungguhnya itu adalah kesementaraan yang berganti-gantian.
jangan sampai si hamba bermaksud untuk mengungkapkan kebaikan, tetapi ternyata ia hanya berkubang dalam kesenangan serta kenikmatan dirinya sendiri..
seringkali Al Mawla seperti bertanya kepada si hamba,”tidak cukupkah ampunan Ku untuk mu ?”, namun itu seperti tidak terlihat dan berlalu begitu saja, karena si hamba lebih menyenangi apa yang telah ia dapatkan dari Nya.
si hamba seperti lebih banyak mengeluh dalam setiap permohonannya, kalau tidak mau dikatakan mengadu, yang ada di dalam setiap pengaduan itu hanyalah apa yang kurang berkesesuaian dengan dirinya sendiri, ia seperti tidak mampu berjalan di atas tangga keyakinan terhadap kepastian akan janji Nya yang Maha Pasti.
si hamba lebih rela tersiksa dalam kenikmatan prasangka kepada Nya, “Aku bagaimana prasangka hamba Ku”, begitulah, tetapi lihatlah lagi lebih dalam pada kata “hamba Ku”, apakah ini bagi si hamba?, itu adalah Kalam Nya, bahasa Nya yang bukan bahasa menurut si hamba. Sungguh teramat memalukan bagi si hamba yang terus menerus dalam prasangka atas setiap tindakan dan perbuatannya, teramat memalukan yang tidak dapat dibayar dengan ibadah yang dilakukan oleh seluruh bangsa jin dan manusia.
kegersangan dan kegelisahan juga kenikmatan adalah bahasa si hamba karena terjajah oleh hawa nafsu serta hasrat-hasrat halus di dalamnya, ia menjadi permainan bagi penjajah, dalam pada itu juga ia menjadi buta dan tuli atas Rahmat Nya, ia selalu saja membawa serta si penjajah kedalam istana sang Maha Raja, dan ia juga mengira dan menduga, bahwa apa yang dibawanya kehadapan sang Maha Raja adalah kesenangan bagi Nya..
selama si hamba hanya melihat dan tenggelam dalam kenikmatan dan lebih sering menghadapkan wajahnya kepada perkiraan dan dugaan, maka Tuannya akan terus membiarkannya seperti itu berulang-ulang, bagai seseorang yang berputar-putar dalam tawaf, ia dapat melihat Ka’bah namun masih dalam jarak yang dekat dengan kejauhannya sendiri..
—-
Rabbana dholamna anfusana, wa ilan taghfirlana wa tarhamna lana kunanna minal khosiriin..
Berkah adalah sesuatu yang tumbuh dan bertambah, sedangkan tabarruk adalah do’a seorang manusia atau selainnya untuk memohon berkah. Allah SWT menjadikan berkah hanya bagi hamba-Nya yang beriman, bertaqwa dan shaleh. Firman Allah dalam surat Al-A’raaf ayat 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Beberapa sebab dicabutnya Berkah :
1. Tidak adanya Taqwa dan Tidak takut kepada Allah SWT.
2. Tidak Ikhlas dalam beramal.
3. Tidak menyebut nama Allah SWT dalam setiap perbuatan dan tidak melakukan Dzikir serta Ibadah kepada-Nya.
Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan Bismillah, maka perbuatan itu terputus untuk memperoleh kebaikan dan berkah, bahkan perbuatan anda tersebut akan disertai syetan.
4. Memakan barang yang haram dan yang dihasilkan dari perbuatan haram.
5. Tidak berbakti kepada kedua orang tua dan menyia-nyiakan hak anak.
6. Memutus tali silaturahmi dan hubungan kekerabatan.
7. Sikap Bakhil dan tidak mau ber-infaq.
Allah SWT tidak akan memberkahi harta yang hanya disimpan oleh pemiliknya dan enggan untuk menginfakkannya, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan bakhil yang sangat tercela dan dibenci.
Allah SWT Berfirman : “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang – orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan – kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS.Al-Baqarah(2): 271 )
Fiman Allah SWT : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, Seratus biji. Allah melipat gandakan(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui” ( QS.Al-Baqarah(2): 261 )
8. Tidak bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
9. Tidak Ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan tidak pernah merasa puas (tidak qana’ah).
10. Melakukan perbuatan maksiat dan dosa, serta enggan bertaubat dan beristighfar.
11. Tidak mendidik anak dengan ajaran agama.
Anak kita adalah tumpuan hati kita, pengharum jantung kita, pewangi aroma dunia dan buah kehidupan kita. Siapa saja yang berlaku buruk terhadap anak maka ia telah merugi dan telah melakukan ketidak patutan. Anak kita adalah madu kehidupan kita.
12. Berbuat kerusakan dan keburukan dimuka bumi.
13. Tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya.
14. Pertengkaran dan perselisihan antara suami-istri.
15. Mendoakan kecelakaan bagi diri sendiri, anak-anak dan harta benda.
Tidak ada kebaikan dan keberkahan pada dirimu, anakmu atau harta bendamu jika engkau mendoakannya dengan kecelakaan, karena terkadang Allah mengabulkan doamu pada saat itu, maka terjadilah musibah dan engkau menyesal ketika penyesalan tak berguna lagi.
Semoga bermanfaat bagi kita semua,,!!!
Berkah adalah sesuatu yang tumbuh dan bertambah, sedangkan tabarruk adalah do’a seorang manusia atau selainnya untuk memohon berkah. Allah SWT menjadikan berkah hanya bagi hamba-Nya yang beriman, bertaqwa dan shaleh. Firman Allah dalam surat Al-A’raaf ayat 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Beberapa sebab dicabutnya Berkah :
1. Tidak adanya Taqwa dan Tidak takut kepada Allah SWT.
2. Tidak Ikhlas dalam beramal.
3. Tidak menyebut nama Allah SWT dalam setiap perbuatan dan tidak melakukan Dzikir serta Ibadah kepada-Nya.
Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan Bismillah, maka perbuatan itu terputus untuk memperoleh kebaikan dan berkah, bahkan perbuatan anda tersebut akan disertai syetan.
4. Memakan barang yang haram dan yang dihasilkan dari perbuatan haram.
5. Tidak berbakti kepada kedua orang tua dan menyia-nyiakan hak anak.
6. Memutus tali silaturahmi dan hubungan kekerabatan.
7. Sikap Bakhil dan tidak mau ber-infaq.
Allah SWT tidak akan memberkahi harta yang hanya disimpan oleh pemiliknya dan enggan untuk menginfakkannya, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan bakhil yang sangat tercela dan dibenci.
Allah SWT Berfirman : “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang – orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan – kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS.Al-Baqarah(2): 271 )
Fiman Allah SWT : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, Seratus biji. Allah melipat gandakan(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui” ( QS.Al-Baqarah(2): 261 )
8. Tidak bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
9. Tidak Ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan tidak pernah merasa puas (tidak qana’ah).
10. Melakukan perbuatan maksiat dan dosa, serta enggan bertaubat dan beristighfar.
11. Tidak mendidik anak dengan ajaran agama.
Anak kita adalah tumpuan hati kita, pengharum jantung kita, pewangi aroma dunia dan buah kehidupan kita. Siapa saja yang berlaku buruk terhadap anak maka ia telah merugi dan telah melakukan ketidak patutan. Anak kita adalah madu kehidupan kita.
12. Berbuat kerusakan dan keburukan dimuka bumi.
13. Tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya.
14. Pertengkaran dan perselisihan antara suami-istri.
15. Mendoakan kecelakaan bagi diri sendiri, anak-anak dan harta benda.
Tidak ada kebaikan dan keberkahan pada dirimu, anakmu atau harta bendamu jika engkau mendoakannya dengan kecelakaan, karena terkadang Allah mengabulkan doamu pada saat itu, maka terjadilah musibah dan engkau menyesal ketika penyesalan tak berguna lagi.
Semoga bermanfaat bagi kita semua,,!!!
19 Tips Sukses ala Bob Sadino ini bermanfaat bagi kawan-kawan yg saat ini sedang berjuang demi kehidupan yang baik
1. Realisasikan ide secara maksimal
Sebenarnya, setiap orang itu memiliki potensi dan impiannya masing-masing. Hanya saha yang menjadi kendala adalah impian-impiannya itu tidak pernah dicoba untuk direalisasikan. Ada pepatah bijak mengatakan, “Ide-ide kecil yang terlaksana lebih baik dari ide-ide besar tapi belum diungkapkan.”.
2. Harus berani memulai
Sebagian orang mungkin merasa bahwa bisnis itu adalah dunia yang bebas, tidak menentu pendapatannya sehingga takut untuk terjun ke dalamnya. Ini yang menjadi penghambat seseorang untuk bisa memulai bisnisnya.
3. Jangan terlalu banyak analisis
Sebagian orang mungkin merasa bahwa jika mencoba berbisnis mereka tidak akan mendapat pendapatan yang pasti seperti orang-oang kantoran atau takut rugi jika bisnisnya gagal. Justru inilah yang menghambat, kuncinya adalah JUST DO IT! Urusan hasil tergantung dari kerja keras dan usaha kita.
4. Jangan ingin serba instan
Fenomena masyarakat kita yang memiliki antusiasme besar terhadap acara seperti Indonesia Idol atau reality show yang berbau pencarian bakat menunjukkan bahwa masih banyaknya orang-orang yang ingin mencapai kesuksesan secara instan. Padahal sesuatu yang didapatkan dengan mudah akan menghilang dengan cara yang mudah juga dan tentu ini tidak akan membentuk karakter manusia yang tangguh.
5. Bermimpi besar
Kita lihat dari film Sang Pemimpi bahwa kekuatan mimpi itu bisa menjadi pembakar semangat kita untuk meraih cita-cita. Ketiga sahabat itu memiliki mimpi besar untuk bisa melanjutkan studi hingga ke luar negeri dan akhirnya tercapai. Bill Gates, diawal karirnya pernah bermimpi bahwa setiap rumah akan memiliki komputer dan kini terbukti
6. Jangan terpaku pada pendidikan
Tidak jarang fenomena masyarakat kita yang bisa menjadi sukses tanpa melihat latar belakang penddikannya. Lihat saja Sujiwo tejo, dengan latar belakang pendidikan matematika kini ia malah menjadi seniman. Tidak selamanya latar belakang pendidikan menentukan karir kita ke depan, terkecuali untuk karir di bidang pendidikan.
7. Be positive thinking
Thomas Alfa Edison melakukan 999 kali percobaan tetapi masih gagal. Beliau berkata, “Aku berhasil menemukan 999 cara yang gagal dalam pembuatan lampu.” Ini menunjukkan kekuatan berpikir postif akan memudahkan langkah kita.
8. Bekerja sama
Manusia adalah makhluk sosial sehingga tidak bisa bekerja sendirian. Manusia saling membutuhkan, bohong besar jika ada orang yang meng-klaim dirinya sukses atas usahanya sendiri, pasti di dalam kesuksesannya terdapat orang-orang yang membantu dia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
9. Tahu tentang kewirausahaan
Kita ingin “berperang” tetapi tidak mengetahui siapa musuh kita, itu merupakan kesalahan besar. Jika kita ingin memasarkan produk kita, tentu kita harus tahu pasar. Jangan sampai setelah terjun ke lapangan kita mengalami kelabakan karena tidak hapal medan.
10. Fokus
Mungkin karena sifat ingin terburu-buru ingin kaya, kita mengambil spesialisasi bisnis terlalu banyak sehingga hasilnya pun tidak maksimal karena tidak bisa dijalani secara fokus. Akibatnya konsentrasi terpecah, masih mending jika usahanya sukses, tetapi bagaimana jika keduanya gagal?
11. Peduli konsumen
Pembeli adalah raja. Bob sadino ini adalah orang yang selalu memerhatikan konsumennya. Caci maki dari seorang pembantu rumah tangga ia jadikan masukan bagi manajemen pemasarannya. Ia menjadikan keluahan konsumen sebagai masukan dan langkah perbaikan ke depannya.
12. Utamakan kualitas
Beliau sangat memerhatikan kualitas barang yang akan dijual. Beliau tidak ingin mengecewakan konsumen dengan barang yang rusak atau cacat.
13. Kerjakan semua dengan tuntas
Tidak bekerja setengah-setengah, apabila telah memulai suatu usaha maka kerjakanlah dengan serius. Jangan sampai berhenti di tengah jalan karena akan menyia-nyiakan harta, tenaga, waktu yang telah kita kerahkan untuk memulai bisnis.
14. Pandai menempatkan prioritas
Urutan kerja diurut berdasarkan prioritas sehingga tidak ada pekerjaan menumpuk di akhir-akhir.
15. Kerja keras dan kerja cerdas
Banyak orang yang merasa telah bekerja keras namun tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Misal saja mahasiswa tingkat akhir yang mengejar kelulusan di bulan Juli ini, walaupun ia tergolong mahasiswa yang memiliki IPK di atas arata-rata, bagaimana jika ia lupa memperhitungkan jumlah SKS nya? Mungkin saja ia tidak jadi lulus Juli karena kurang 1 SKS saja. Ia lupa bekerja cerdas, lupa strategi.
16. Tidak mencampuradukkan uang pribadi dan perusahaan
Hal ini bisa memacu tindakan korupsi, walaupun dalam jumlah yang kecil. Uang perusahaan bisa saja tercampur dengan uang pribadi karena terdapat keteledoran dalam hal pencatatan keuangan. Sebainya rekeningnya dipisah, untuk memudahkan pengaturan keuangan juga.
17. Jangan menyerah
Kegagalan adalah bumbu kehidupan, kegagalan membuat kita bisa menjadi manusia tangguh.
18. Selalu melibatkan Allah dalam setiap aktivitas
Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Dalam segala aktivitas kita akan bernilai ibadah.
19. Berperilaku baik
Inilah mata uang yang berlaku dimana saja. Dengan perilaku yang baik, masyarakat akan menaruh kepercayaan kepada kita sehingga orang-orang akan percaya akan kredibilitas kita. Kita pun bisa dengan mudah masuk dalam lingkungan masyarakat.
“Tidak ada orang yang paling menderita, melebihi orang yang tumbuh tidak menjadi dirinya sendiri, tumbuh tidak menjadi jasadnya sendiri, dan tidak menjadi pikirannya sendiri” (‘Aidh Al Qarni) Jika kita mencermati kalimat tersebut, maka seakan-akan ‘Aidh Al-Qarni hendak mengatakan satu hal kepada kita bahwa kunci kebahagiaan terletak pada seberapa besar kita mengenal diri sendiri, dan mengoptimalkan apa yang kita miliki tersebut menjadi sebuah kerja. Menjadi diri sendiri dengan mengenali potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Menjadi diri sendiri dengan mengembangkan keunikan diri. Karena Allah telah menghujamkan potensi yang berbeda pada tiap manusia untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya hingga menghasilkan karya-karya luar biasa.
Seorang bunda Helvy Tiana Rosa misalnya, yang potensi menulisnya telah tampak sejak kelas 3 SD, kemudian ditekuni, digali, dilatih untuk kemudian mencapai tingkat ahli dan mahir sehingga lahirlah karya-karya fenomenal dari tangannya. Karya yang menginspirasi jutaan manusia untuk menjadi lebih baik. Cerpen Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) adalah salah satunya. KMGP adalah maha karya yang lahir dari sebuah perjuangan menekuni potensi. Tentu saja hal itu terjadi setelah beliau mengetahui dengan pasti bahwa potensi terbesarnya adalah menulis! Tentu saja kita tidak harus menjadi seperti HTR.
Ini hanyalah sebagai contoh saja. Namun yang ingin saya tekankan adalah pentingnya berkarya dengan potensi yang ada dalam diri kita. Kita biasa mengenalnya sebagai bakat. Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai potensi, suatu pemberian Dzat yang Maha Tinggi kepada tiap manusia berupa kemampuan melakukan sesuatu yang lebih dalam suatu bidang tertentu. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana jika kita tidak mengenali potensi kita? Sebelum membahasnya lebih jauh, saya ingin mengatakan bahwa tiap orang memiliki potensi berbeda. Ada yang berpotensi dalam bidang tarik suara, dalam bidang olahraga tertentu, dan sebagainya. Setelah memahami hal itu, marilah kita cari potensi diri kita yang sebenarnya.
Muhammad Musrofi dalam bukunya 5 Langkah Melahirkan MahaKarya menyebutkan bahwa ada 8 cara untuk mengenal potensi diri kita. Pertama, kenalilah aktivitas apa yang paling kita cintai. Maka disanalah terdapat potensi luar biasa kita. Aktivitas yang selalu ingin kita lakukan baik dalam keadaan lapang ataupun sempit. Kedua, kenalilah aktivitas apa yang paling membuat kita begitu asyik. Seolah tanpa bosan melakukannya berlama-lama. Begitu enjoy dan tanpa beban ketika sedang mengerjakannya.
Ketiga, kenalilah aktivitas apa yang paling mudah dan cermerlang yang bias kita lakukan. Biasanya jika kita melakukan aktivitas itu akan bersemangat dan merasa tidak kesulitan. Keempat, kenalilah aktivitas yang menjadi impian sejak lama. Sebuah potensi terkadang berasal dari impian masa kecil yang menggerakkan alam bawah sadar untuk mewujudkannya. Seperti Burt Rutan yang ketika masih berusia 14 tahun bermimpi dapat pergi ke luar angkasa dan singgah di bulan. Lalu impian itu menjadi kenyataan setelah ia berhasil membuat SpaceShipOne, sebuah pesawat super cepat luar angkasa pertama di dunia. Kelima, tanyakan pada orang lain tentang potensi yang kita miliki sebenarnya. Agar penilaian yang diberikan lebih bersifat objektif. Terkadang orang lain atau orang terdekat kita lebih mengetahui tentang kemampuan kita ketimbang diri kita sendiri. Keenam, kenalilah aktivitas apa yang paling cepat kita pelajari. Missal suatu keterampilan yang mudah sekali kita mengerti setelah dipelajari, kemudian kita bisa menekuninya sepenuh hati. Ketujuh, kenalilah kecerdasan berganda. Tentu kita sudah mengenal 8 kecerdasan yang sering didengung-dengungkan Profesor Howard Gardner. Kecerdasan linguistic, visual-spasial, intrapersonal, interpersonal, logic-matematik, bodi-kinestetik, musical, dan naturalis. Dari situlah kita bisa mengenal potensi kita yang sesungguhnya. Terakhir, dengan metode kartu panggilan. Yakni mengelompokkan aktivitas-aktivitas yang kita lakukan dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, aktivitas yang sesuai potensi. Kelompok kedua, aktivitas yang meragukan. Kelompok ketiga, aktivitas yang tidak sesuai dengan potensi. Lalu carilah dari kelompok pertama aktivitas yang palings sering dilakukan dan kita menyukainya. Begitulah. Jika kita telah mengenal potensi kita, maka tugas selanjutnya adalah mengoptimalkannya hingga kemudian lahirlah karya-karya luar biasa yang membuat dunia takjub dan terpesona. Selamat mencoba!
“ Carilah hatimu di tiga tempat…Temui hatimu sewaktu bangun membaca al-Quran. Tetapi jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan solat. Jika tidak kau temui juga, kau carilah hatimu ketika duduk tafakur mengingati mati. Jika kau tidak temui juga, maka berdoalah kepada Allah, pinta hati yang baru kerana hakikatnya pada ketika itu kau tidak mempunyai hati”
Kerja manusia adalah sumber nilai yang rill. Jika seseorang tidak bekerja maka dia tidak akan berguna dan tidak memiliki nilai, adalah sebuah ungkapan yang telah diproklamirkan Islam sejak lebih dari satu milenium yang lalu sebelum para ahli ekonomi klasik mene¬mukan fakta-fakta yang ada. Dalam pandangan Al-Qur’an, kerja (amal) adalah yang menentukan posisi dan status seseorang dalam kehidupan. Sebagaimana hal tersebut diungkap di dalam ayat-ayat berikut:
“Dan tiap-tiap orang memperoleh derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-An’ aam : 132).
“Dan setiap mereka mendapat derajat menurut apa yang telah mere¬ka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pe¬kerjaan pekerjaan mereka sedang mereka tidak dirugikan.” (Al¬Ahqaaf : 19).
Dengan kata lain, kerja adalah satu-satunya kriteria, disamping Iman, dimana manusia bisa dinilai untuk mendapatkan pahala, penghargaan dan ganjaran.
Al-Qur’an penuh dan sering serta berkali-kali mendesak manusia untuk bekerja. Semua insentif yang ada diperuntukkan untuk manusia agar dia ter¬libat dalam semua aktivitas yang produktif.
Al-Qur’an mendesak untuk kerja keras dan menjanjikan pertolongan Allah dan petunjuk-Nya bagi mereka yang berjuang dan bekerja dengan baik. Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an menjanjikan pahala yang berlimpah bagi seorang yang bekerja dengan memberikan pada mereka insentif (reward) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjanya.
Al-Qur’an juga menyerukan pada semua orang yang memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dalam usaha mencari sarana hidup untuk dirinya sendiri. Tak seorang pun dalam situasi normal, dibolehkan untuk meminta-minta atau menjadi beban kerabat, sahabat dan negara sekalipun. Al-Qur’an sangat menghargai mereka yang berjuang untuk mencapai dan memperoleh karunia Allah. Apa yang disebut karunia ini adalah meliputi segala macam sarana kehidupan. Rasulullah mengajarkan pada umatnya agar setiap keluar dari mesjid hendaknya membaca: “Ya Allah! Saya mohon karunia-Mu.”
Doa ini adalah sebagai peringatan dan sekaligus sebagai dorongan bagi umat Islam untuk selalu mencari dan berjuang mendapatkan sarana hidup. Etika Islam, menurut Al-Faruqi, dengan jelas menentang segala bentuk minta-minta, menentang tindakan cara hidup parasit yang memakan keringat orang lain. Sunnah Rasulullah memaparkan pada kita bahwasanya bekerja giat sangatlah dihargai, sedangkan pengangguran sangatlah dikutuk.
Rasulullah saw menyatakan bahwasanya orang yang mencari nafkah hidupnya untuk dirinya sendiri dan untuk saudaranya yang terus beribadah sepanjang waktu, lebih baik daripada saudaranya yang hanya beribadah dan tidak bekerja tersebut. Memang ada pernyataan dari Allah bahwasanya para pengemis dan orang-orang yang miskin memiliki bagian dari harta orang-orang yang kaya. Allah menyatakan itu jika benar-benar mereka adalah orang yang berhak untuk mendapatkan bagian itu.
Namun itu bukan berarti bahwasanya mereka itu mendapat lisensi selamanya untuk tetap berpangku tangan dan menjadi tanggungan masyarakat secara permanen. “Cobalah ingat sebuah peristiwa yang terjadi pada seseorang bersama Rasulullah,” tulis Malik bin Nabi, tatkala Rasulullah memberi nasehat pada seorang sahabatnya, dimana dia datang pada Rasululah meminta haknya. Rasulullah menyuruh dia pergi untuk mengambil kayu lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasulullah ingin mengajarkan pada orang itu bahwa mencari rizki untuk menutupi hajat hidupnya melalui kerja keras lewat tangannya sendiri jauh lebih baik daripada menyandarkan pada “hak”nya tersebut.
Penghormatan Islam Terhadap Kerja dan Pekerja
“Islam,” tulis Abdal’ati, “menghormati segala bentuk pekerjaan untuk menghasilkan sarana hidup, sepanjang tidak ada ketidaksenonohan dan tindakan yang salah dan merugikan.” Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
“Seseorang yang mengambil seutas tali, lalu memotong ranting pohon dan mengikatnya dengan tali itu, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menyedekahkannya adalah lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain. Baik orang yang dia minta itu memberi ataupun menolak.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).
Rasulullah menyebutkan bahwa perilaku menggantungkan diri pada orang lain adalah “dosa (religous sin), cacat sosial (social stigma) dan tindakan yang sangat memalukan.”
Perlu kiranya dicatat di sini bahwasanya kerja yang diwajibkan dan dianjurkan Islam adalah kerja yang berkualitas (amal saleh), yang baik dan produktif serta membawa manfaat. Bukannya sembarang kerja. Maka, setiap ajakan kerja dalam A-Qur’an akan selalu dibarengi dengan sifat yang saleh dan baik. Yang juga pantas untuk menjadi catatan adalah bahwasanya semua pekerjaan, yang baik maupun yang buruk pastilah dimintai pertanggungjawabannya. Setiap orang akan memetik apa yang dia tanam. Sebagaimana firman Allah,
”Pada hari itu semua orang keluar dari kuburnya dalan keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom pun, niscaya dia akan mendapat (balasan)nya. Dan barang siapa yang inengerjakan kejahatan seberat atom pun, niscaya ia akan mendapat (balasan)nya.” (Az-Zalzalah : 6 -8).
Al-Qur’an dan Bisnis
Bukti bahwa bisnis begitu penting tidak hanya ada dalam pernyataan, namun ia juga ada dalam sikap dan konsiderasi khusus yang disetujui Al-Qur’an.
Al-Qur’an menggunakan terminologi bisnis sedemikian ekstensif. Terma komersial ini, memiliki dua puluh macam terminologi, yang diulang sebanyak 370 kali di dalam Al-Qur’an. Terma-terma yang sedemikian banyak itu merupakan terma bisnis yang penelitiannya dilakukan C. C Torrey saat dia menulis disertasinya yang berjudul: The Commercial-Theological Terms in the Koran. Torrey menyatakan bahwasanya sebagian dari teologi Qur’an mengandung terma-terma bisnis. [33] Menurut Torrey, penggunaan terma bisnis yang sedemikian banyak itu menunjukkan sebuah manifestasi adanya sebuah spirit yang bersifat komersial dalam Al-Qur’an.
Bahwa Al-Qur’an memerintahkan bisnis dalam terma yang sangat eks¬plisit adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Lebih jauh kita mendapatkan banyak instruksi di dalam Al-Qur’an, dalam bentuknya yang sangat detail, tentang praktek bisnis yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Para pakar yang meneliti tentang hal-hal yang ada dalam Al-Qur’an sama-sama mengakui bahwa praktek perundang-undangan Al-Qur’an selalu berhubungan dengan transaksi. Dengan ungkapan lain, ijin yang diberikan dengan berdasarkan pada perundang-undangan, merupakan salah satu bukti dan pertanda betapa aktivitas bisnis itu sangat penting menurut Al-Qur’an.
Haji ke tanah suci adalah satu pilar dan rukun Islam. la merupakan lam¬bang sebuah pengalaman religius dalam kehidupan seorang Muslim, karena ia menggabungkan dimensi ibadah manusia pada Allah secara fisik, spiritual dan materi. Namun demikian A1-Qur’an masih memberikan ijin berbisnis pada saat Haji itu [35] di sela-sela padatnya ritual ibadah tersebut. Artinya, sekali lagi, Al-Qur’an memandang bahwa aktivitas bisnis adalah sebuah aktivitas yang demikian penting.
Ajakan Berbisnis dalam Al-Qur’an
Al¬Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang memotivasi manusia untuk melakukan aktivitas bisnis. Bisnis terutama perdagangan, menurut Al-Qur’an, adalah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan. Al-Qur’an kerap kali mengungkapkan bahwa perdagangan adalah sebuah pekerjaan yang paling menarik. Al-Qur’an, tulis Torrey, dengan jelas menggambarkan perhatiannya yang besar dalam masalah perdagangan. Kitab suci ini dengan lugas mendorong para pedagang untuk melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melakukan bisnis dengan para penduduk di negeri asing. Pekerjaan yang banyak menguntungkan ini dianggap sebagai sebuah karunia yang Allah berikan kepada orang-orang Quraisy.
Al-Qur’an juga menekankan akan pentingnya alat-alat transportasi dan sarana pendukungnya (infrastruktur) yang akan memperlancar sebuah perjalanan bisnis. Kapal disebut berulang-ulang di dalam Al-Qur’an dan dinyatakan sebagai karunia pada manusia, dimana mereka diperintahkan untuk mempergunakannya dalam rangka mencari karunia Allah.
Larangan Berbisnis dengan Tidak Jujur
Al-Qur’an sangat menghargai aktivitas bisnis yang jujur dan adil. Al-Qur’an berulang-ulang mencela dan melarang dengan keras segala bentuk praktek ketidakadilan dalam berbisnis. Tindakan yang tidak fair jauh lebih dikutuk daripada bentuk dosa-dosa yang lain. Hal ini tentu menunjukkan betapa pentingnya sikap fair, jujur dan adil dalam aktivitas bisnis.
Disamping penghormatannya terhadap aktifitas bisnis yang fair, Al-Qur’an juga mengingatkan tentang makna kejujuran dan keadilan dalam perdagangan. Al-Qur’an sangat menghargai aktivitas bisnis dengan selalu menekankan kejujuran dalam hal bargaining.
Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan sifat adil dan fair dinisbatkan pada Allah. Penisbatan sifat itu menunjukkan secara sempurna betapa pentingnya nilai keadilan dan kejujuran dalam Islam. Dimana Allah pun dalam memperlakukan hamba-Nya berdasarkan asas keadilan dan kejujuran tersebut.


seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”
“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.
Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.. “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.” “Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.” Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
“Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .
“Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek.
Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan.
seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.
(by Paulo Coelho)